Kenapa Trading Di Bursa Saham Amerika

Kenapa Trading di Bursa Saham Amerika

Kenapa trading di Bursa Saham Amerika? Salah satu berita menarik yang saya baca dari koran Kompas pada 11 Januari 2020 lalu adalah bahwa Bursa Efek Indonesia mengindikasikan adanya 41 saham gorengan, dan BEI akan melakukan pengawasan ketat terhadap saham-saham tersebut. Untuk saham-saham dengan kapitalisasi rendah, sangatlah mudah untuk dilakukan praktik goreng-menggoreng seperti ini. Dengan kapitalisasi saham-saham di bursa US yang sedemikian besarnya, maka praktek gorengan itu luarbiasa sulit terjadi. Pilihan saham-saham yang sulit digoreng itu pun sedemikian banyaknya, sehingga kita bisa benar-benar melakukan diversifikasi terhadap aset kita. Karena seperti kita ketahui, diversifikasi merupakan suatu metode untuk melindungi aset kita dari resiko bila salah satu aset kita mengalami masalah. Dengan memilih banyak saham yang berkualitas bagus di bursa saham Amerika, aset kita akan menjadi tahan goncangan dan ini salah satu alasan kenapa trading di bursa saham amerika

Kita akan trading pada Bursa Saham Amerika, dimana US Market merupakan pasar perdagangan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia. Bursa Saham Amerika jauh lebih besar daripada bursa di Indonesia. Menurut press release dari IDX (Indonesia Stock Exchange) pada 27 Desember 2019, kapitalisasi seluruh saham pada saat itu adalah 7.247 trilliun rupiah. 

Sementara kapitalisasi satu saham Apple saja adalah 1,38 Trilyun dollar. Yang berarti adalah sekitar 18.874 trilyun. Kapitalisasi satu saham Apple saja sudah 2.5 kali lipat dari seluruh kapitalisasi saham di Indonesia. Tidak bisa dibayangkan seberapa besar kapitalisasi seluruh saham di Amerika. Hal ini sangatlah ideal, karena hal ini membuat saham-saham yang berkualitas disana sangatlah sulit untuk ‘digoreng’. 

Kita tentunya mengenal Apple dimana gadgetnya sangat terkenal di seluruh dunia, Microsoft dimana kita sedari dulu selalu menggunakan softwarenya untuk menjalankan laptop, mengetik makalah, atau membuat presentasi, kita mengenal Tesla dimana mobil listriknya sangat terkenal. Juga kita mengetahui Netflix yang sangat digandrungi penikmat film di seluruh dunia dan Google dimana kita menggunakan operating systemnya untuk HP yang kita gunakan sehari hari. Banyak sekali perusahaan bertaraf dunia diperdagangkan pada bursa US. Kita bisa naik level dari memiliki kepemilikan perusahaan bertaraf nasional ke perusahaan bertaraf internasional. Dan keunggulan dari mereka tentunya memiliki likuiditas yang sangat tinggi, serta sangat diminati oleh investor-investor besar di seluruh dunia.

Selain itu, kapitalisasi yang demikian besarnya juga berarti terdapat likuiditas yang sangat tinggi. Pada bursa dengan kapitalisasi kecil, sering kita jumpai saham yang biarpun sudah naik harganya, tapi tidak bisa dijual karena tidak ada yang mau beli. Atau saham yang turun harganya, namun kita tidak bisa exit position karena tidak ada yang mau beli. Hal ini tidak akan terjadi bila likuiditasnya tinggi, seperti beragam pilihan saham bluechip pada US market. Saking besarnya likuiditasnya, selalu akan ada yang membeli dan menjual di Bursa Saham Amerika

Pada berita pasar dalam negeri diatas, terdapat laporan OJK yang menyatakan bahwa ada 41 saham yg rutin digoreng oleh pihak dalam negri. Dalam trading di US market termasuk menggunakan option, adalah luar biasa sulit terjadi penggorengan semacam itu. Dan juga tahun 2019 lalu tercatat IHSG hanya mengalami kenaikan 2.18% selama setahun dan ini tergoling kecil. Dalam setahun ini pasti ada kenaikan dan penurunan dari harga saham2nya. Sayangnya penurunan saham tidak mampu kita kapitalisasi karena kita hanya mampu buy dan berharap naik. Dengan bertransaksi di US market, kita bisa mengambil arah uptrend, downtrend, bahkan sideways, yang berarti kesempatan kita mencapai profit berkali lipat lebih banyak

Salah satu perbedaan lain dari bursa Indonesia adalah kemampuan kita untuk melakukan short selling. Bursa Amerika merupakan gambaran ekonomi global, dimana dengan melakukan trading di dalamnya, kita bisa mengikuti trend global yang terjadi di seluruh dunia dan trend tersebut bisa naik ataupun turun. Saat ekonomi dunia bergejolak sehingga terjadi penurunan, misalnya sebagai imbas dari ketegangan yang diakibatkan Perang dagang US dengan China, kita bisa memperoleh keuntungan darinya dengan melakukan selling saham walaupun tidak memiliki sahamnya. Hal ini membuat kita tidak hanya melulu harus buy dan hold, sehingga kita terus merasa kecewa saat bursa secara keseluruhan sedang down.

Demikian informasi kenapa trading di bursa saham amerika. Semoga berkenan

Satu keunikan lain dari saham US adalah jumlah satuan yang bisa dibeli disana. Pada masa dahulu, terutama di bursa lokal, ditetapkan bahwa kita harus membeli 500 lembar per 1 lot saham. Di saat itu, bursa US memberlakukan peraturan bahwa 1 lot saham adalah 100 lembar saham. Seiring berjalannya waktu, di bursa Indonesia, kita dapat membeli 100 lembar saham per 1 lotnya. 

Namun bursa US memberlakukan kebijakan yang lebih lunak lagi, bahwa kita bisa melakukan pembelian sebesar 1 lembar saham saja. Perkembangan terkini pada bursa Amerika adalah kita bisa membeli bahkan 0.01 lembar saham. Hal ini menunjukkan fleksibilitas yang luar biasa dari kepemilikan saham di bursa Amerika. Bayangkan bahwa dengan uang puluhan ribu saja kita bisa membeli saham internasional seperti Facebook, Google, Microsoft, dan saham-saham berkualitas lainnya. Tentunya hal ini akan sangat signifikan dalam upaya kita untuk berinvestasi. 

Terutama bila kita menggunakan teknik menabung saham, dimana kita setiap bulan menyisihkan sedikit demi sedikit uang untuk menabung dalam bentuk saham. Bila dengan uang sedikit saja ( tidak lebih dari Rp 50.000 RUPIAH) kita bisa membeli saham bluechip bertaraf internasional ini, investasi kita akan menjadi sangat berkualitas tinggi.

Materi diatas akan dibahas pada acara di bawah ini:

Exclusive Seminar Options Selling

Topic:

“Cara Smart Trading Saham dan Options di Bursa Saham Amerika”

Venue : Jakarta